Dulu pernah saya disodori teka-teki oleh seorang teman. Sampai sekarang, cerita teka-tekinya masih saya ingat, dan saya susun sendiri menjadi bentuk cerita yang sedikit berbeda. Begini ceritanya: (Mudah-mudahan anda tidak bingung menjawabnya)
(Sumber gambar: thewashingtonnote.com)
Pada suatu siang, masuklah seorang pemuda ke dalam sebuah toko yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Lalu mulailah dia mencari-cari beberapa barang yang dibutuhkannya, dan setelah barang-barang itu didapatkannya, pergilah pemuda itu ke meja kasir.
Penjaga toko yang bernama Ani itu menghitung harga barang-barang tersebut. Ada 5 item dengan nilai belanja total 30 ribu rupiah. Saat si pemuda membayar belanjaannya dengan selembar 50 ribu rupiah, Ani baru menyadari bahwa di laci meja tidak ada uang kembalian. Setelah meminta pemuda itu untuk menunggu, akhirnya Ani keluar toko sebentar menuju rumah makan di sebelah untuk menukarkan uang 50 ribuan itu dengan pecahan yang lebih kecil. Kembali ke toko, Ani langsung memberikan uang kembalian sebesar 20 ribu ke si pemuda, yang akhirnya pergi dengan barang belanjaannya.
Beberapa saat kemudian, datanglah bapak pemilik rumah makan sebelah ke toko tersebut dengan bersungut-sungut, bilang ke si Ani bahwa uang 50 ribu yang ditukarkan tadi adalah uang palsu. Sejenak Ani memperhatikan uang kertas yang dibawa Bapak tersebut, dan selintas dia ingat rupa uang yang tadi ditukarkannya. Pantesan, dalam hatinya, tadi dia punya firasat kurang enak. Rupanya uangnya palsu!
Akhirnya, dikeluarkanlah uang 50 ribuan yang lain, yang bukan uang palsu, dan diberikannya kepada si Bapak sebagai pengganti uang palsu yang tadi. Uang palsunya Ani pegang untuk kenang-kenangan agar dia lebih berhati-hati selanjutnya.
Pertanyaannya:
Berapa nilai kerugian yang diderita toko tersebut?
CP, Jan 2010
http://www.ceppi-prihadi.co.nr
Ada seorang teman sedang berusaha memasang telepon di rumahnya, karena rumahnya belum memiliki telepon. Nah, kalau disebut "memasang telpon", sudah barang tentu yang dimaksud adalah telepon rumah atau yang disebut PSTN (Public Switched Telephone Network). Hanya, teman tersebut harus menunggu informasi dari pihak Telkom apakah di daerah rumahnya, masih tersedia line kosong dari jaringan telepon yang ada. Agak ribet ya?
Beda sekali dengan kalau kita membeli pesawat telepon fixed wireless, dengan menggunakan kartu Esia atau Flexi. Hari ini beli, hari ini juga kita bisa menggunakannya untuk menelepon dan untuk menerima telepon.
Telepon rumah, masihkah diperlukan? (Sumber gambar: www.indonesiamedia.com)
Juga telepon rumah sekarang hitungannya mahal. Flag fall-nya saja (he.he.he maksudnya abonemen...eh, BUKAN ABODEMEN ya!) sudah sekitar 38ribu! Itu tanpa dipakai sama sekali.
Dengan telepon lain, dari jenis fixed wireless seperti Flexi atau Esia, nilai 38ribu sudah mendapat sekian jam untuk bicara.
Hanya, mungkin secara nilai, nomor telepon rumah bisa lebih dipercaya untuk dijadikan jaminan sesuatu, misalnya kalau kita punya usaha. Orang cenderung akan lebih percaya kalau kita memberikan nomor telepon rumah dari jenis fixed-line (telkom) dibandingkan nomor telepon rumah yang fixed wireless. Untuk mendapatkan layanan fixed-line ini, memang dibutuhkan identitas resmi dan juga alamat rumah resmi. Berbeda dengan fixed wireless, yang orang lebih banyak menggunakan jenis layanan prabayar dibandingkan pasca bayar, yang juga membutuhkan identitas resmi. Selain itu, karena sering ada kejadian kriminalitas yang memanfaatkan telepon fixed wireless ini, seperti kasus penipuan undian berhadiah atau sms berhadiah, nilai kepercayaan orang terhadap nomor telepon seperti ini agak kurang.
Namun demikian, tetap saja telepon fixed wireless ini makin memasyarakat, mengingat sangat mudahnya orang mendapatkannya. Tarif yang murah, disertai berbagai layanan lain yang bersifat nilai tambah, misalnya nada sambung pribadi atau nomor pemanggil yang bisa ditampilkan di layar, daya tarik telepon jenis ini tidak semakin berkurang.
Karena pemakaian telepon rumah dari jenis fixed-lie makin berkurang, tidak heran jika pihak Telkom merasa perlu memasang iklan di media termasuk televisi, untuk mengkampanyekan pemakaian telepon rumah/fixed-line. Lucu ya, zaman dulu sewaktu Telkom masih sebagai pemain tunggal saya ingat...Telkom sering kampanye agar kita se-efisien mungkin menggunakan telepon apalagi di jam sibuk, namun kini...
Begitulah kalau perusahaan plat merah mendapatkan saingan!..he.he.he..
CP, Jan 2010
http://ceppi-prihadi.blogspot.com
Labels: esia, fixed wireless, fixed-line, flexi, kampanye, line kosong, media, nada sambung pribadi, PSTN, telepon rumah, televisi
Kemeriahan perayaan dan hura-hura menyambut datangnya tahun baru 2010 usailah sudah. Kini kita kembali pada kehidupan nyata sehari-hari, yang masih penuh dengan kesulitan ekonomi di tengah suasana negara masih carut marut dengan kasus Century. Suasana duka pun masih menyelimut kita, dengan wafatnya salah satu guru bangsa kita Gus Dur, seorang humanis dan pluralis yang sangat konsisten.
Ada yang tersisa dari malam perayaan tahun baru kemarin, yang di Cikarang Baru terpusat di sekitar Jalan Kedasih/Kasuari/Anggrek/Puspa Raya, berupa ucapan selamat tahun baru. Sayangnya, ucapan ini dituangkan di atas tembok yang berada di tempat umum, yang jadinya ini merupakan suatu vandalisme.
"Vandalisme di tengah perayaan datangnya tahun baru"
"Sadarkah mereka bahwa tulisan ini merusak keindahan lingkungan? Pastinya tidak!"
Pelakunya bisa ditebak berasal dari kalangan muda, anak-anak muda yang sedang mencari jatidiri dan senang ekspresi diri mereka diperhatikan oleh orang banyak, salah satunya berbentuk grafiti. Namun kalau saja kebiasaan grafiti bisa disalurkan di tempat yang lebih pas, alangkah bagusnya buat mengembangkan bakat seni mereka dan juga lingkungan kita akan tetap terjaga bersih dan rapi.
Atau mereka belum tahu bahwa ada media yang bernama internet yang bisa menampung ucapan-ucapan seperti itu? Yang tidak saja bisa dibaca oleh pacarnya, teman-temannya, kelompok saingannya, namun semua orang di seluruh dunia bisa ikut membacanya! Dan mereka akan lebih bebas untuk menuangkan karyanya.
Kalau saja mereka akrab dengan dunia blog…tidak perlu tembok-tembok itu menjadi korban.
CP, Jan 2010
http://ceppi-prihadi.blogspot.com
Setelah tahun lalu sempat gagal mengadakan acara tahunan perusahaan, di Waterboom Cikarang karena masalah budget dari perusahaan, kini terwujud sudah keinginan sebagian besar karyawan di perusahaan tempat saya bekerja, karena tahun ini acara ulang tahun perusahaan dan sekaligus family gathering diselenggarakan di sana.
Agak aneh kalau orang Cikarang tidak kenal Waterboom, namun masih banyak karyawan atau pun anggota keluarganya yang baru pertama kali ke sana. Tak heran, hari ini Waterboom dari pagi dipenuhi oleh orang-orang dari perusahaan tempat kerja saya.
Saya yang dengan keluarga berangkat dari rumah setengah sembilanan,
Oleh-oleh dari Heritage of Percussion (5 - selesai)
0 comments Posted by Ceppi at Wednesday, December 02, 2009Di bawah adalah beberapa ilustrasi yang bisa bercerita banyak tentang bagaimana kegiatan Festival ini berlangsung.
Deretan mobil golf siap mengantar anda
(Buat tamu VIP doang deng! Jadi kalau ada bukan VIP, silakan jalan kaki saja)
Panas? Ada payung ini! Yang penting kita duduk paling depan. Jelas lihat panggungnya!
"Orang-orang di panggung nyanyi sama maen musik, kita di sini maen angklung yok!"
Kebiasaan masyarakat Indonesia yang susah hilang. Sampah asal tinggal.
(sudah karakter sih!)
Wah, AC-nya saja pakai rasa "Neo Mild"!
(maklum, sponsor utama!)
Rambu lalu lintas terbaru
(Anda tidak boleh ke kanan, jadi harus ke toilet!...he.he..he...)
Tarian ini memang banyak mengangkat-angkat kaki
Kok menutup muka sih! Malu?
Tarian mirip jurus kungfu. Benar-benar dinamis!
Apalagi yang ini:.....ciaaaatt........!!
Bagaimana dengan yang ini?
"Saya teh bukan anggota grup band Kuburan lho! Saya juga bukan orang Papua asli. Tapi saya bisa menari dan main musik Papua.
Pokoknya salam buat warga Kota Jababeka! Daaah...."
Salam,
Ceppi Prihadi
http://www.ceppi-prihadi.co.nr
http://harihari-ceppi.blogspot.com
http://ubcimart.com
http://kompasiana.com/ceppi
Labels: cikarang baru, heritage of percussion, mobil golf, neo mild, papua, sampah, sedia payung, toilet

