Showing posts with label cikarang baru. Show all posts
Showing posts with label cikarang baru. Show all posts

Bagi anda warga Cikarang dan sekitarnya; jika anda mengalami masalah dengan radiator mobil anda; kemanakah anda pergi memperbaikinya?
Tentunya kita harus pergi ke bengkel khusus radiator. Bengkel umum tidak bisa memperbaiki radiator ini; khusunya jika kerusakannya adalah kebocoran.

Mobil baru tentu membutuhkan perawatan radiator lebih mudah. Cukup diganti airnya atau coolant yang dipakai dengan membuka penutup bagian bawah atau menambahkan jika berkurang. Namun untuk mobil yang sudah terhitung tua paling tidak di atas 5 tahun kebutuhan servis ke bengkel sudah menjadi keharusan. Biasanya mereka sudah mulai berkurang kinerjanya karena adanya kebocoran.

Bengkel radiator yang layak anda datangi di Cikarang berada di Jalan Raya Cikarang-Cibarusah antara pom bensin Petronas dengan pertigaan Pasir Gombong. Jika anda datang dari arah jalan tol; maka bengkel ini berada di sebelah kiri anda. Begitu melihat pom bensin Petronas kurangi kecepatan mobil anda dan jika melihat papan nama bengkel BMS ini langsung saja anda menepi.




(Dilanjut nanti ya sudah ngantuk nih!)


Baca Selengkapnya...

Peristiwa meluapnya air sungai Cilemahabang pada tanggal 15 April lalu yang "hampir" menimbulkan lagi banjir di perumahan Cikarang Baru menyisakan rasa khawatir dan sedikit trauma pada sebagian warga, khususnya yang lokasi tempat tinggalnya dekat dengan sungai tersebut.
Beberapa hari terakhir pun hujan lebat yang mengguyur kawasan Cikarang dan sekitarnya, meskipun tidak berlangsung lama, sudah menyebabkan tinggi permukaan air sungai yang membelah kompleks perumahan ini mendekati "zona merah". Warga yang menyaksikan langsung bagaimana tingginya permukaan air sungai kembali merasa waswas, sementara yang berada di tempat lain pada saat hujan berlangsung, umumnya mencari kabar akan kondisi cuaca di Cikarang Baru juga termasuk kondisi permukaan air sungai tersebut.

Untuk mengurangi resiko terjadinya banjir akibat meluapnya air sungai pada saat terjadinya hujan, pihak Jababeka (atau dari pemda ya?) melaksanakan kegiatan peninggian tanggul yang berada di sisi perumahan, dengan timbunan tanah. Jika anda dalam beberapa hari ini melewati jalan Cilemahabang Raya, maka anda akan disuguhi pemandangan banyaknya tumpukan tanah di pinggir jalan, ada juga yang sampai agak tengah sehingga sedikit menggangu arus lalu lintas 2 arah di jalan ini, yang akan dipakai untuk proyek peninggian tanggul tersebut.


Tumpukan tanah di pinggir jalan yang akan dipakai untuk meninggikan tanggul

Uniknya, material tanah yang dipakai untuk meninggikan tanggul di pinggir sungai Cilemahabang tersebut, sejauh pengamatan saya berasal dari hasil penggalian tanah pada proyek pembangunan SPBU yang ceritanya pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu. Jadi daripada tanah hasil galian lokasi SPBU itu dibuang ke tempat lain, pikir pihak Jababeka (mungkin lho!), lebih baik dimanfaatkan untuk meninggikan tanggul yang sudah kurang memadai untuk mengimbangi tingginya permukaan air sungai pada saat hujan lebat agar tidak meluap keluar .


Tanggul yang sudah ditinggikan (kira-kira menjadi 1 m tingginya)

Apakah material tanah hasil penggalian proyek SPBU itu cukup untuk meninggikan tanggul sepanjang jalan Cilemahabang? Tentu saja tidak. Dan itu artinya dibutuhkan material tanah yang berasal dari tempat lain. Atau barangkali panjang tanggul yang akan ditinggikan hanya sebatas habisnya hasil penggalian lokasi SPBU, itu masih menjadi pertanyaan sebagian warga yang bertempat tinggal tidak jauh dari SPBU tersebut maupun yang sehari-hari melewati jalan Cilemahabang Raya.


Di sisi lain, yang merupakan kawasan industri, juga diadakan peninggian tanggul dan perbaikan sistem saluran air

Efektivitas keberadaan tanggul yang sekarang dipertinggi itu pun perlu dibuktikan pada saat hujan lebat merata di sepanjang aliran sungai Cilemahabang mulai dari hulu, apakah cukup memadai menjadi dinding benteng perhananan bagi wilayah yang berada di pinggiran sungai tersebut.Seharusnya tanggul itu bisa mencegah muntahnya air dari garis pinggir sungai ke jalanan dan kawasan perumahan di sekitarnya, serta termasuk juga kawasan industri KIJ II. Dengan seperti itu, adanya tanggul sepanjang pinggiran sungai yang efektif bisa menentramkan perasaan warga perumahan, dan juga para pengusaha di kawasan industri tersebut, yang sering merasa waswas dan khawatir setiap hujan turun.

Sayangnya, setiap habis hujan, yang dialami warga mau pun para pelintas jalan Cilemahabang Raya adalah kondisi jalan yang becek dan berlumpur, akibat air hujan yang turun di sepanjang jalanan tersebut tidak mempunyai jalur buangan sehingga menjadi genangan-genangan air ditambah lumpur yang berasal dari kikisan tanggul tanah tersebut. Kapan keringnya? Ya, menunggu adanya matahari yang akan menguapkan genangan air tersebut.

Kita berharap, Cikarang Baru bisa menjadi perumahan yang tetap nyaman untuk dihuni.


Salam,
--
Ceppi Prihadi
http://ceppi-prihadi.blogspot.com

Baca Selengkapnya...

Ada guyonan dari seorang ibu teman anak saya. Katanya tempat sampah terbesar di dunia adalah berada di Indonesia. Nama tempat sampah itu adalah Indonesia Raya. Indonesia Raya? Hah! Nggak salah tuh?
Benar. Nama itu dilontarkannya untuk menyindir orang-orang kita yang dengan seenaknya membuang sampah di mana saja. Dianggapnya mungkin, di semua wilayah Indonesia orang bisa membuang sampah.

Jadi kalau anaknya, meskipun sudah diajarkan berkali-kali agar membuang pada tempatnya, pada saat berada di dalam mobil membuang sampah ke luar kaca jendela, sang Ibu menegur," Jangan membuang sampah ke luar, Nak!. Memangnya Indonesia Raya ini tempat sampah!"

Namun sayangnya, contoh yang diberikan orang-orang di sekitar kita sering menghapus pelajaran yang diberikan dari orang tuanya. Anak melihat sampah berserakan di mana-mana, di pinggir jalan, di pinggir sungai, di tanah kosong dekat rumah dan banyak lagi tempat yang sebenarnya bukan tempat sampah. Atau melihat orang membuang sampah dari balik kaca jendela mobil, mobil mewah lagi, ke jalan. Plung! Tanpa sedikit pun merasa bersalah dan malu dilihat oleh orang lain. Benar-benar dianggapnya setiap jengkal wilayah tempat orang itu berada adalah tempat membuang sampah.
Anak-anak bisa menjadi terpengaruh oleh apa yang dilihatnya sehari-hari di luar rumah.

Di Cikarang Baru ini, jalur hijau yang berada di tengah-tengah kawasan bisnis Kasuari Raya - Kedasih Raya - Anggrek Raya - Puspa Raya (saya tidak mengerti, mengapa Jababeka memberi beberapa nama untuk jalan yang sebenarnya hanya satu jalan, hanya 1 tarikan garis saja) menjadi tempat hiburan dan arena nongkrong warga Cikarang Baru dan sekitarnya untuk menikmati waktu akhir pekannya. Dari mulai sehabis maghrib, lokasi tersebut mulai ramai. Tua muda, anak-anak sampai ke orang lanjut usia, laki-laki perempuan, yang hanya berdua maupun yang beramai-ramai, semuanya numplek blek di sana, memenuhi hamparan rumput jalur hijau tersebut (termasuk yang sedang memadu kasih...he.he.he..makanya jalur hijau tersebut disebut rumput seribu janji!)

Banyak di antara mereka yang membawa makanan dan minuman, atau memesannya dari pedagang yang berada di seberang jalan. Sayangnya, karena di area tersebut tidak disediakan tempat sampah, ditambah kebiasaan orang kita yang tidak pernah mau untuk mengumpulkan di satu tempat sisa atau pun bungkus dari makanan/minuman yang mereka santap, apalagi membawa pergi sampah yang mereka hasilkan, jadilah di pagi harinya hamparan rumput hijau tersebut menjadi penuh dengan ceceran sampah.

Photobucket
Pemandangan dari arah jalan Kedasih Raya

Memang nantinya ada pasukan berbaju jingga yang akan membersihkannya, memungut sampah itu satu demi satu untuk mengembalikan kebersihan dan keindahan area tersebut.

Photobucket
Pemandangan dari arah jalan Kasuari Raya

Apakah kebanyakan orang kita memiliki mental majikan, yang mau enaknya membuang sampah termudah di manapun dari tempat mereka duduk-duduk, tanpa mau bersusah payah mengumpulkan dan membawa pergi sampah mereka sendiri? Karena merasa nantinya akan ada petugas yang membersihkannya? Merasa bahwa mereka sudah membayar makanan/minuman yang dibeli dan dimakan diminumnya, sehingga tidak perlu lagi menjaga kebersihan tempat itu? Merasa ada tempat sampah Indonesia Raya?

Bagaimana kalau sekali-sekali para petugas tidak usah membersihkan tempat itu sampai minggu depannya?
Biarkan hamparan rumput tersebut menjadi kotor dan berantakan!
Pasti orang-orang menjadi malas untuk kembali ke situ. Sekali-sekali patut dicoba tuh!

CP, Mei 2010
http://ceppi-prihadi.blogspot.com

Baca Selengkapnya...

Bagi sebagian besar masyarakat kita, golf merupakan olahraga mahal, yang tidak terjangkau secara biaya maupun lingkungan pergaulannya. Namun bagi segelintir orang, olahraga tersebut menjadi sangat penting dari sisi pergaulan maupun kepentingan bisnis.
Di negara-negara Asia yang maju seperti Korea dan Jepang pun, golf menjadi olahraga kalangan atas, yang sebagian besar masyarakatnya tidak berkesempatan untuk mencicipinya. Namun, untuk para ekspatriat yang berasal dari sana, yang di negaranya umumnya belum pernah merasakan sedikit pun bermain golf karena terlalu mahal biayanya, di sini golf menjadi kegiatan utama mereka dalam mengisi hari libur.
Di sini terlalu murah kali ya buat mereka! he.he.he....

Bagi orang-orang yang supersibuk, berolahraga golf di lapangan golf yang umumnya berada di luar kota menjadi kesempatan yang jarang. Maka, muncullah fasilitas untuk mengakomodasi kebutuhan berolahraga itu dengan dibangunnya Golf Driving Range (lapangan golf kecil itu lho..), yang biasanya berlokasi di sekitar pusat keramaian. Dekat dan praktis! Untuk pemula pun, golf driving range sangat cocok sebagai tempat berlatih sebelum mencoba lapangan sesungguhnya yang lebih membutuhkan teknik bermain dan kebugaran fisik.

Beruntunglah kita (kita? he.he.he..maksudnya mereka para ekspatriat!), di Cikarang Baru selain terdapat lapangan golf bertaraf internasional, juga ada golf driving range buat para pemula maupun super eksekutif yang membutuhkan berolahraga golf secara cepat dan praktis, yang lokasinya di tengah-tengah keramaian Cikarang Baru. Namun, karena lokasinya berada di kabupaten Bekasi, yang berada di wilayah Jawa Barat yang bahasa daerahnya Sunda, istilahnya pun mengalami pe-nyunda-an.

golp,golf,driving,cikarang
Tempat berlatih golp yang dekat dan praktis

Anda berminat belajar golp? Jangan lupa belajar bahasa Sunda dulu ya!...:)

Baca Selengkapnya...

Pagi tadi berangkat kerja, seperti biasa saya mengantar anak-anak ke sekolah mereka terlebih dahulu. Selepas anak-anak turun dari kendaraan masuk ke dalam pintu gerbang sekolahnya yang berada di jalan KH Dewantara, saya melanjutkan perjalanan ke tempat kerja saya. Saat baru jalan sekitar lima puluh meter dari gerbang sekolah tersebut, saya baru menyadari bahwa di langit di depan saya tergambar sebuah pemandangan alam yang sangat mempesona. Sebuah bentangan berwarna-warni berbentuk setengah lingkaran penuh terlihat secara sempurna.
Sebuah pelangi...di ujung langit sebelah barat.
Sangat indah! Subhanallah...

Sudah lama sekali saya tidak melihat langsung pelangi ini. Jadi sangat senang dan gembira bisa melihat lagi fenomena alam yang luar biasa ini. Sayangnya, anak-anak saya sudah turun dan mungkin tidak sempat melihat pelangi ini, satu objek yang baru mereka lihat di film, buku-buku atau majalah.

Saya jadi ingat masa kecil di kota kelahiran saya Bandung, saat itu munculnya pelangi lebih sering. Sehabis hujan, jika masih ada matahari bersinar kita bisa berharap munculnya pelangi ini. Biasanya di pagi atau sore.
”Katumbiri, katumbiri!...” begitu teriakan anak-anak pada masa itu, termasuk saya, begitu melihat pelangi ini (catatan: katumbiri memang istilah untuk pelangi dalam bahasa Sunda). Konon, katanya, munculnya pelangi ini pertanda bahwa para bidadari sedang turun dari kahyangan untuk mandi di telaga.
Namun, meskipun terlihat indah, ada larangan atau pamali, dalam melihat pelangi ini. Yaitu tidak boleh menunjuk pelangi itu dengan jari. Katanya, kalau melakukan hal itu, kita akan bisa terkena sakit mata.
Ha..ha...ha..lucu ya terdengarnya? Tapi begitulah, anggapan orang saat itu dan dulu pun saya percaya hal itu.

Pagi tadi memang di Cikarang hujan rintik-rintik, sementara matahari yang belum lama terbit sudah memancarkan sinarnya. Sehingga, terjadilah pembiasan sinar matahari oleh titik-titik air hujan ini menghasilkan spektrum yang secara dasar ada tujuh warna-warni. Kata anak-anak saya yang masih di sekolah dasar, warna pelangi adalah ”mejikuhibiniu” merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu, padahal dulu saya tahu singkatan untuk warna ini sesudah di bangku SMP.

Karena membutuhkan sudut tertentu dalam pembiasan ini, pelangi ini biasanya terjadi sore atau pagi hari di mana matahari masih atau sudah berada di bawah. Namun, saya pun bertanya-tanya, kenapa sekarang pelangi di sekitar kita jarang muncul, terbukti sudah sekian lama saya tidak melihat pelangi ini. Apakah karena pengaruh perubahan iklim global, karena cuaca yang tidak menentu dan karena polusi udara yang gila-gilaan di lingkungan kita ini?
Mudah-mudahan anak-anak saya bisa melihatnya di kesempatan lain.











Pelangi terlihat di Cikarang Baru (Sumber gambar: courtesy of Ipoenk Poernomo http://www.facebook.com/poernomo.ipoenk)

Sewaktu memasuki gerbang Jababeka, pintu 1, benar-benar sangat terlihatlah keindahan dari sebuah mahakarya tersebut. Bentangan setengah lingkaran sempuran mejikuhibiniu tersebut menghiasi latar belakang gerbang Jababeka, sehingga menjadikannya bagaikan gapura yang sangat indah. Pelukismu agung! Kata lagu anak-anak. Really beatiful!
Benar-benar jarang terlihat!

Ada sayangnya, ....yaitu saat itu saya tidak membawa kamera digital saya sehingga tidak bisa mengabadikan fenomena alam yang luar biasa tersebut, sementara hape yang saya pakai adalah hape low-end yang tidak mempunyai fasilitas kamera. Menyesal juga!

Ada teman-teman di sini yang berkesempatan mengambil gambar pelangi tersebut?
Bagi dong fotonya!

CP, Jan 2010

http://ceppi-prihadi.blogspot.com

Baca Selengkapnya...

Kemeriahan perayaan dan hura-hura menyambut datangnya tahun baru 2010 usailah sudah. Kini kita kembali pada kehidupan nyata sehari-hari, yang masih penuh dengan kesulitan ekonomi di tengah suasana negara masih carut marut dengan kasus Century. Suasana duka pun masih menyelimut kita, dengan wafatnya salah satu guru bangsa kita Gus Dur, seorang humanis dan pluralis yang sangat konsisten.

Ada yang tersisa dari malam perayaan tahun baru kemarin, yang di Cikarang Baru terpusat di sekitar Jalan Kedasih/Kasuari/Anggrek/Puspa Raya, berupa ucapan selamat tahun baru. Sayangnya, ucapan ini dituangkan di atas tembok yang berada di tempat umum, yang jadinya ini merupakan suatu vandalisme.


"Vandalisme di tengah perayaan datangnya tahun baru"


"Sadarkah mereka bahwa tulisan ini merusak keindahan lingkungan? Pastinya tidak!"

Pelakunya bisa ditebak berasal dari kalangan muda, anak-anak muda yang sedang mencari jatidiri dan senang ekspresi diri mereka diperhatikan oleh orang banyak, salah satunya berbentuk grafiti. Namun kalau saja kebiasaan grafiti bisa disalurkan di tempat yang lebih pas, alangkah bagusnya buat mengembangkan bakat seni mereka dan juga lingkungan kita akan tetap terjaga bersih dan rapi.
Atau mereka belum tahu bahwa ada media yang bernama internet yang bisa menampung ucapan-ucapan seperti itu? Yang tidak saja bisa dibaca oleh pacarnya, teman-temannya, kelompok saingannya, namun semua orang di seluruh dunia bisa ikut membacanya! Dan mereka akan lebih bebas untuk menuangkan karyanya.

Kalau saja mereka akrab dengan dunia blog…tidak perlu tembok-tembok itu menjadi korban.

CP, Jan 2010
http://ceppi-prihadi.blogspot.com

Baca Selengkapnya...

Di bawah adalah beberapa ilustrasi yang bisa bercerita banyak tentang bagaimana kegiatan Festival ini berlangsung.

Photobucket
Deretan mobil golf siap mengantar anda
(Buat tamu VIP doang deng! Jadi kalau ada bukan VIP, silakan jalan kaki saja)


Photobucket
Panas? Ada payung ini! Yang penting kita duduk paling depan. Jelas lihat panggungnya!

Photobucket
"Orang-orang di panggung nyanyi sama maen musik, kita di sini maen angklung yok!"

Photobucket
Kebiasaan masyarakat Indonesia yang susah hilang. Sampah asal tinggal.
(sudah karakter sih!)


Photobucket
Wah, AC-nya saja pakai rasa "Neo Mild"!
(maklum, sponsor utama!)


Photobucket
Rambu lalu lintas terbaru
(Anda tidak boleh ke kanan, jadi harus ke toilet!...he.he..he...)


Photobucket
Tarian ini memang banyak mengangkat-angkat kaki

Photobucket
Kok menutup muka sih! Malu?

Photobucket
Tarian mirip jurus kungfu. Benar-benar dinamis!

Photobucket
Apalagi yang ini:.....ciaaaatt........!!

Bagaimana dengan yang ini?

Photobucket
"Saya teh bukan anggota grup band Kuburan lho! Saya juga bukan orang Papua asli. Tapi saya bisa menari dan main musik Papua.
Pokoknya salam buat warga Kota Jababeka! Daaah...."



Salam,
Ceppi Prihadi
http://www.ceppi-prihadi.co.nr
http://harihari-ceppi.blogspot.com
http://ubcimart.com
http://kompasiana.com/ceppi

Baca Selengkapnya...

Di berbagai acara, apalagi acara di luar yang melibatkan banyak orang, sebagian orang berkeinginan mengabadikan berbagai kejadian di dalam acara tersebut. Apalagi, jika terdapat kegiatan menarik dan unik, yang layak untuk diabadikan dan di-bagi kepada teman-teman/pihak yang tidak berkesempatan hadir. Tentu saja kamera menjadi alat yang sangat penting untuk ini. Sebagian besar kamera yang dibawa pengunjung adalah dari jenis kamera digital, baik itu kamera saku maupun kamera besar (SLR), atau bahkan kamera yang menjadi fitur ponsel pun dijadikan alat untuk menyimpan berbagai peristiwa yang ada. Sepertinya sudah hampir tidak ada tempat bagi kamera konvensional yang menggunakan film, dan sepertinya juga kamera sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Di acara Festival Budaya Internasional ini pun, kita bisa melihat banyak orang berseliweran membawa kamera. Terlebih di depan panggung, aksi para pemotret baik yang benar-benar fotografer maupun yang sekedar untuk membuat foto kenang-kenangan dapat menjadi objek tontonan tersendiri. Seperti di bawah inilah!

Photobucket
Anak kecil pun ingin memotret sendiri!


Photobucket
Wuihh...kalau ini gayanya memang fotografer profesional!


Photobucket
Aksi para pemotret di depan panggung


Photobucket
Seorang Ibu di bawah panggung berusaha mengambil gambar sedekat dan sejelasnya


Photobucket
Deretan para pemotret


Photobucket
Mengintai sekaligus membidik - mencari gambar terbagus


Photobucket
Aksi fotografer panggung


Photobucket
Angkat tinggi-tinggi kameranya!


Photobucket
Saling membidik
(Photo taken by P' Eshape)


Anda suka memotret? Atau malah anda suka dipotret? Acara seperti inilah ajang untuk itu.

CP, Nov 2009
http://ceppi-prihadi.blogspot.com/

Baca Selengkapnya...

Inilah sebagian stand-stand kuliner Cikarang Baru (mohon maaf jika ada informasi yang salah):


Photobucket
Stand kuliner? Eh, ini sih bukan!
Hanya memang karena perusahaannya menjadi sponsor utama, jadilah terdapat beberapa stand seperti ini.
Selama promo: Beli 2 bungkus, dapat gratis 1 bungkus plus korek gas. Murah bukan?
Mudah-mudahan anak-anak tidak ikut-ikutan membelinya, karena kata MUI beberapa waktu yang lalu, merokok bagi anak-anak haram hukumnya.


stand5
Bakmi Jowo "Jombor" - P' De Gandung
Anda penggemar bakmi? Sudah selayaknya anda mencoba yang ini!


stand4
Pecel Lele Lela
Bukan cuma pecel, melainkan segala jenis masakan dengan lele sebagai hidangan utamanya ada di sini.
Eh, di sebelahnya adalah Pondok Rasa Cimandiri, yang punya hidangan khas Soto Bogor. Boleh coba tuh!


stand3
Bakmi Semar
Bakmi Ayam yang paling enak menurut saya! Apalagi mie dan baksonya buatan sendiri pemiliknya.


stand2
Mie Pelangi dan Cireng Bandung Isi
Wah, ini saya belum coba. Anda pernah?


stand1
Kupat Tahu Bandung dan Bakso Tasik
Kupat tahu-nya, kesukaan saya. Anda kangen pulang ke Bandung tapi belum ada waktu? Obati saja kekangenan anda dengan KTB !

Hari Sabtu lalu anda tidak sempat datang di acara Festival Budaya Internasional ini, namun penasaran dengan stand-stand kuliner yang ada di sana, silakan saja kunjungi langsung tempatnya masing-masing. Semuanya ada di Cikarang Baru kok! Enak-enak lah pastinya!

CP, Nov 2009

Baca Selengkapnya...

Kegiatan Festival Kebudayaan Internasional pada tanggal 21 November 2009 yang digagas oleh Jababeka Multi Cultural Centre ini merupakan event penting tahunan Kota Jababeka, dan tahun ini sudah menginjak yang kedua kalinya (tahun pertamanya kapan ya?, kok saya tidak tahu..he.he..he...). Festival ini mengambil tema Heritage of Percussion (Warisan Seni Perkusi) sehingga acara utamanya adalah pertunjukan kesenian alat musik pukul (perkusi) dari berbagai daerah di Indonesia seperti dari Papua, dari Timor, dari Madura, dan lain-lain. Selain itu pula ditampilkan kesenian perkusi dari mancanegara, seperti dari Jepang, dari Korea, dari India dan lain-lain.

Pertunjukan seni lainnya yang ditampilkan adalah seni tradisional Angklung, lalu marching band, ditambah lagi kesenian barongsay, dan sebagainya. Pihak Jababeka benar-benar ingin menaikkan pamor seni budaya sebagai warisan leluhur bangsa kita yang harus dilestarikan dan mengambil manfaat darinya untuk kepentingan pariwisata nasional. Dan tentunya sekaligus sebagai penambah daya tarik bagi kepentingan investasi dari luar negeri di negara kita, khususnya di Jababeka.
Yang penting lagi, festival budaya ini pun dipadukan dengan Festival Kuliner (namanya sih International Food Bazaar) yang menampilkan stand-stand kuliner dari para pelaku bisnis kuliner di seputaran Kota Jababeka. Cukup lengkap, meskipun suasana internasionalnya belum terasa.

Kegiatan yang mengambil waktu dari jam 9 pagi hingga selesai ini, memang dilaksanakan di tempat terbuka, yaitu di pertigaan Jalan Puspa/Anggrek Raya-Jalan Cikarang Baru (Golf) Raya, tepatnya di jalan depan Gedung MCC tempat panggung utamanya, dan area kegiatannya memanjang ke arah Jalan Puspa Raya dan Jalan Anggrek Raya. Akibatnya memang, ada penutupan sebagian jalan yang akhirnya arus lalu lintas yang biasa melewati pertigaan dan jalan-jalan itu dialihkan ke jalur-jalur alternatif.
Dari Pasimal, jika kita bermaksud pergi ke arah Rusa/Kancil/Tropikana, juga yang menuju ke jalan Cilemahabang Raya, arus lalu lintas dibelokkan di putaran depan Pasimal dan selanjutnya mengambil lajur kanan jalan dari arah berlawanan (jalan dibuat menjadi 2 arah), hingga belok di Jalan Cilemahabang Raya
Lalu lintas kendaraan yang bermaksud ke arah Bundaran Golf, dari arah Pasimal, di seberang jembatan sebelum Ruko Anggrek, dibelokkan ke arah kiri. Rupanya tembok pembatas yang memisahkan area Jalan Anggrek dan belakangnya yang masih berupa tanah kosong dibuka, dan kendaraan harus melewati jalan pintas itu, menyusuri jalan tanah yang becek berlumpur karena malamnya diguyur air hujan. Sampai tiba di ujungnya di gerbang Pasar Festival, dan bisa melanjutkan di jalan yang biasa, menuju Bundaran Golf.

Masuk ke area kegiatan, dari menyeberang jembatan Pasimal, kita akan melewati pemeriksaan security. Selanjutnya kita akan disambut hamparan karpet merah panjang menuju ke arah panggung di ujung jalan. Di pinggir jalan, sebelum menuju panggung, telah didirikan tenda-tenda peserta bazaar. Jadi banyak pengunjung yang menyempatkan diri untuk sekedar melihat-lihat, maupun berbelanja di stand-stand tersebut. Stand kuliner berderet di setengah panjang Jalan Puspa Raya, sementara di Anggrek Raya para sponsor memamerkan produk-produk di stand mereka, sekaligus menawarkannya langsung ke pengunjung yang berminat.

Inilah sebagian suasana di hari Sabtu lalu, di Festival Kebudayaan Internasional yang diselenggarakan oleh Jababeka ini!

blangbir
Ada kebakaran memang? Kok ada blangbir (mobil pemadam kebaran) di atas jembatan?

festivalkuliner
Suasana depan Ruko Puspa dengan tenda-tenda festival kuliner.
(Tapi nggak pakai bumbu tembakau kan?)


tarikorea
Pertunjukan perkusi dari Korea (Betul kan? Tuh pada pakai sorban!)

banner
Spanduk inilah yang mempromosikan kegiatan di Sabtu lalu ini
(Kok ada yang tidak tahu ya, kalau di Cikarang Baru ada Festival!)


panggung
Panggung yang megah, di tengah pertigaan jalan

mobilgolf
Memanfaatkan kesempatan untuk rekreasi keluarga

redcarpet
Hamparan karpet merah. Serasa tamu agung saat kita berjalan di atasnya.
(Atau selebriti Hollywood ya? he.he..he..)


sapujagat
Pasukan "sapu jagat", siap membersihkan sisa-sisa yang anda tinggalkan di lokasi
(Masyarakat kita terlalu tergantung pada mereka. Duh!)

Madura
Musik dan lagu dari Madura

latihanttari
Berlatih di belakang panggung

angkatkaki
Tarian plus musik Taiko & Okinawa (bener nggak ya namanya?)

tarijalan
Tarian turun ke bawah panggung

papua
Dari Papua siap menghibur anda, mereka berpose sebelum naik panggung.

CP (Nov 2009)

Baca Selengkapnya...
;;